Artikel Hangat
Beranda / Faidah / Memperhatikan keimanan

Memperhatikan keimanan

Sungguh, posisi yang tertinggi dan mulia adalah keimanan. Dengannya kita masuk surga, tanpanya kita terjerumus kedalam api neraka.

Tatkala posisi keimanan yang mulia ini sudah kita ketahui, seyogyanya bagi kita untuk selalu memperhatikan keimanan kita. Terkadang iman kita tinggi diatas awan, terkadang jauh dibawah hujan.

Maka perhatikanlah keimanan kita.

Keimanan ini, seperti yang dikatakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al Hakim dalam Mustadraknya, dari jalur sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu :

إِنّ اْلإِيْمَانَ لَيَخْلُقُ كَمَا يَخْلُقُ ثَوْبُ أَحَدِكُمْ فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدّدَ اْلإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ

“Sesungguhnya keimanan dapat menjadi lekang bagaikan baju yang berubah usang. Karena itu mintalah kepada Alloh agar Dia memperbaharui iman dalam hati kalian.”
(HR. Al-Hakim dalam Mustadrak dihasankan Al-Albany dalam As-Shahihah 1585)

Iman, merupakan harta yang paling berharga, lebih berharga dari harta manapun. Tidakkah kita melihat, ketika harta mulia milik seseorang berada di genggamannya, maka akan banyak mata-mata yang ingin merebutnya, akan banyak pencuri yang akan merampasnya. Bersama dengan itu pula kita melihat bagaimana penjagaan orang tersebut akan hartanya. Begitu luar biasa penjagaannya.

Maka, iman ini saudaraku, lebih dari itu, penjagaan terhadap keimanan amat lebih pantas untuk mendapat perilaku istimewa seperti itu.

Jika harta ada pencuri dan perampok yang mengincarnya, maka keimanan punya nafsu yang selalu akan membawa kepada keburukan, ada syaithon yang selalu ingin menjatuhkan.

Ketika itu sudah kita ketahui, seyogyanya bagi kita untuk senantiasa menjaga keimanan kita dari segala bentuk pencurian.

Ketahuilah saudaraku, penjagaan keimanan tidak akan terjadi tanpa mengetahui dua perkara;

1. mengetahui hal-hal yang akan menambah keimanan.

2. mengetahui hal-hal yang akan mengurangi keimanan.

Siapa saja yang ingin imannya selalu terjaga, maka hendaknya dua hal ini tak boleh terlepas dari pengetahuannya. Dan juga, ia tak boleh terlepas dari jihad dan berjuang untuk mengamalkan apa-apa yang akan menambah keimanan serta menjauh dari segala yang akan merusak dan mengurangi keimanan.

Diantara sebab utama untuk menambah keimanan adalah mengenal sifat-sifat Allah, keagunganNya, juga ilmu terhadap al-quran, mengetahui kisah-kisah kehidupan para Nabi, serta melihat tanda-tanda kebesaran Allah, baik kauniyyah yang terdapat di sekeliling kita ataupun yang lainnya.

Allah ta’ala berfirman :

(الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ)
[سورة آل عمران 191]

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”

Adapun sebab utama berkurangnya keimanan; adalah kebodohan akan keagungan Rabbul ‘Alamin, kebodohan tentang agama ini, serta lalai dari segala kebaikan yang seharusnya dapat menambah keimanan.

Perusak keimanan bukan hanya datang dari dalam (nafsu dan syahwat), namun juga terdapat faktor-faktor perusak dari luar diri; seperti sahabat yang buruk, bisikan syaithan yang tak pernah menginginkan kemenangan seorang hamba dengan keimanannya, dll.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba yang senantiasa memperhatikan keimanannya, dan memperbaharuinya sebagaimana mestinya.

Wallahu waliyyuttaufiq.

Tentang Fadhil

Fadhil
LIPIA Jakarta

Check Also

Setiap Anak Lahir di atas Fitrah

  عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ( مَا مِنْ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *