Artikel Hangat

Untuk Penyeru Kepada Tauhid

Bagian 3 Dari Nasihat Syaikh Shalih Sindi.
5. Yang kelima, dan Terakhir : Jadilah Saliim, yang sehat dan selamat hatinya.
Allah Ta’ala berfirman :
إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ (٨٤)
(Ingatlah) ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci, (Ash-Shaffat : 84)
Ialah Ibrahim, pemimpinnya orang-orang yang bertauhid, penyeru kepada tauhid, sosok yang Allah perintahkan setiap hambanya untuk meneladani jalan hidupnya, yakni jalan keikhlasan dalam setiap gerak-gerik kehidupan.
Saudaraku, sangat sulit dibayangkan, seorang penyeru kepada Tauhid, akan tetapi dihatinya masih bercokol kesyirikan, seorang penyeru kepada tauhid namun riya, sungguh dua hal yang rasanya mengherankan jika bersatu dalam satu hati.
Jika engkau adalah seorang Da’i Tauhid, mulailah dengan membersihkan niat dan memperbaiki hati. Ajaklah manusia menuju Allah, jangan ajak kepada dirimu sendiri. Allah Ta’ala berfirman :
قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ
Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah (Yusuf : 108)
Sering-seringlah berhenti dan merenungi ayat ini. Hati-hati dengan keinginan-keinginan diri sendiri. Hati-hati dengan hasad.
Maksud dakwah ini adalah agar manusia mendapatkan hidayah, agar mereka sampai kepada kebenaran, bukan untuk menunjukkan diri sendiri, bukan untuk mendapatkan penghormatan dari orang-orang, bukan pula untuk dipanggil Syaikh, Ustaz, Da’i. Hati-hatilah!.
Maksud dan tujuan dakwah ini adalah agar manusia mendapatkan hidayah, entah itu melalui perantaramu atau melalui saudaramu. Jangan pedulikan itu. Yang penting maksud dari dakwah itu tercapai, hidayah itu sampai. Tak peduli engkau dikenal orang ataupun tidak, dakwahmu harus tetap jalan, bahkan ketika tidak dikenal, engkau lebih bahagia.
Jangan tamak dan haus popularitas, jangan haus penggemar. Kamu itu Da’i Tauhid, hatimu harusnya bersih dan selamat dari hal-hal demikian. Hatimu harusnya senantiasa bergantung kepada Allah, mengharap wajah Allah.
Dengan demikian, dakwahmu atas izin Allah akan membuahkan hasilnya.
Selanjutnya, ketika hatimu sudah bersih dan selamat dari keinginan-keinginan nafsu duniawi, engkau akan menjadi pemersatu bukan pemecah belah.
Para pendakwah kepada Tauhid, haruslah bersatu padu diatas Tauhid itu sendiri. Mereka harus paham bahwa perpecahan diantara mereka adalah kekuatan untuk musuh-musuh mereka, bahwa perselesihan diantara mereka adalah gerbang kelemahan dakwah itu sendiri. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan keadan tersebut :
وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ
‏dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang (Al-Anfal : 46)
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Muadz dan Abu Musa ke Negeri Yaman, Beliau berpesan kepada mereka berdua : “kalian berdua, harus saling tolong-menolong, jangan pernah berselisih”. Perselisihan itu buruk. Pertikaian yang terjadi diantara dua orang atau kaum adalah salah satu sebab terpecahnya keutuhan beragama mereka. Maka waspadalah.
Jadi, untuk setiap penyeru kepada Tauhid, hendaklah ia bertaqwa kepada allah dalam setiap dakwahnya. Hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam mengurusi urusan kaum muslimin.

Tentang Fadhil

LIPIA Jakarta

Check Also

Cinta Dan Ketenangan

(faidah Risalah Ibnul Qoyyim ila ahadi Ikhwanihi) “Teruntuk saudaraku Alauddin, semoga Allah menjadikan engkau pengajar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Send this to a friend