Artikel Hangat
Beranda / Adab / 10 tahap menghafal yang baik dan benar

10 tahap menghafal yang baik dan benar

(Faedah majlis Syekh Al-‘Ushaimi)

Menghafal merupakan salah satu proses penting dalam belajar. Apalah gunanya banyak tahu tanpa ada hafalan sedikitpun. Syaikh Utsaimin rahimahullah pernah berkata : “kami banyak membaca dan sedikit menghafal, namun ternyata hafalan kami lebih bermanfaat daripada apa yang kami baca”. oleh karena hal tersebut, banyak sekali pertanyaan tentang bagiamana cara mengahfala yang baik? bagaiman cara menghafal yang cepat?.

Kalau boleh saya menjawab, tiap orang punya cara sendiri untuk memudahkan dirinya menghafal. tiap orang punya seni tersendiri dalam mempercepat hafalannya. tersohorlah orang-orang Mauritania akan hebatnya hafalan mereka, tentunya, mereka punya cara tersendiri dalam menghafal.

Namun, secara garis besar ada kaidah umum nan global dalam cara mengahafal yang baik. disebutkan dalam sebuah majlis oleh Syaikh ‘Ushaimi yang lalu kita beri judul : 10 cara menghafal yang baik dan benar.

1. Memperjelas objek yang akan dihafal. ini bisa terwujud dengan bertanya kepada ahli ilmu yang paham tentang tahapan menuntut ilmu.

2. fokus dalam satu objek hafalan, jangan dicampur dengan yang lain. jikalau engkau sudah bertekad untuk mengahafal sesuatu, jangan campur adukkan ia dengan hafalan lainnya. ini merupakan satu kaidah umum yang sudah banyak diketahui. namun, terkadang ada faktor-faktor yang menyebabkan seseorang harus mencampur objek hafalan, misalkan ia sudah tidak sanggup untuk menghafal fokus karena sebab umur, maka ia dituntun untuk terus belajar. sebagaimana kisah yang terjadi pada imam Ahmad; ketika beliau didatangi seseorang yang bertanya, “wahai imam, sebaiknya aku ini menghafal Alquran dahulu atau menuntut ilmu?”. lalu imam Ahmad menjawab setelah melihat penanya merupakan orang yang tua berumur, “menuntut ilmu”.

Adapun anak anak, yang otak mereka masih segar dan mudah untuk fokus, maka beri mereka Batasan-batasan terfokus. Pengecualian diatas tidak bertentangan dengan kaidah umum yang menganjurkan untuk terfokus pada satu objek hafalan, karena cara tersebut sudah teruji dan paten untuk umumnya penuntut ilmu.

3. Memilih cetakan terbaik dari objek yang ingin dihafal, dan terus konsisten menggunakan cetakan tersebut. perkara ini mencakup dua hal penting, yaitu, pemilihan cetakan yang minim kesalahan, dan tidak mengganti-gantinya selama proses menghafal.

Mengapa ini dianjurkan? karena ini sesuai dengan pendidikan modern yang diistilahkan dengan photographic memory (ingatan visual). otak, ketika dibiasakan dengan sesuatu, ia akan merekam keadaan sesuatu tersebut dan mencetaknya dalam ingatan. karenanya, tetap menggunakan satu cetakan matan dalam menghafal sangat memudahkan hafalan tersebut lengket di otak.

4. Membagi-bagi objek hafalan dalam bab dan sub-bab sesuai kemampuan yang menghafal. Bukan dengan cara mengahfalanya sekaligus dan tanpa batasan. Disebutkan bahwa salah satu cara menghafal orang-orang Mauritania adalah dengan (أقفاف) atau tempat berhenti. artinya mereka membagi-bagi hafalan dengan batasan. dan ini merupakan salah satu cara untuk memudahkan seseorang menghafal, apapun itu.

5. Membenarkan bacaan nash objek hafalan tersebut sebelum menghafalnya agar ia tidak menghafal dengan lafadz yang salah.

6. Bersungguh sungguh dalam menghafal dengan cara-cara terbaik. Banyak cara sebenarnya untuk bisa memudahkan hafalan tersebut lengket. Cara-cara tersebut bisa disimpulkan dalam 4 point :

a. Dengan cara menulis apa yang akan dihafal.

b. meninggikan suara dalam menghafalnya.

c. Mendengar objek hafalan tersebut secara berulang ulang, baik dari rekaman mp3 atau lainnya.

d. menyambung dan mengaitkan antar batasan hafalan. misalkan ketika ia menghafal surat Ar-Rahman, ia kaitkan akhir surat tersebut dengan awal surat Al-waqiah. cara tersebut akan menjadikan otak menggambarkan pola susunan dari apa yang dihafal.

7. Mengulang-ulang hafalan sebanyak-banyaknya. Tahap mengulang ini tak akan terjadi kecuali setelah kita benar-benar hafal. tak disebut dengan mengulang hafalan ketika kita mengulang-ngulang pengucapan dalam menghafal. akan tetapi, yang namanya mengulang hafalan, terjadi setelah kita hafal. adapun jumlahnya, maka yang paling standar dan minimal adalah 20 kali dan tidak kurang. semakin banyak mengulang, maka semkain kuat pula hafalan.

8. Menyetorkan (memperdengarkan) hafalan kepada orang lain. Tidak cukup dengan menghafalnya sendiri tanpa ada yang mendengar hafalan tersebut. Orang yang mendengarkan hafalan tersebut bisa siapa saja; teman seperjuangan, atau guru yang menjadi penanggung jawab hafalan.

9. Mudzakarah hafalan. Apa itu? yaitu proses mengulang hafalan dengan cara memperdengarkannya dihadapan seorang guru secara bergantian. misalkan kita membaca satu bab, lalu teman kita membaca bab selanjutnya dan begitu seterusnya.

10. Muraja’ah hafalan. Yaitu mengulang hafalan tersebut, bisa dilakukan ketika masih dalam proses menghafal objek hafalan tersebut atau setelah menyelesaikan objek hafalan tersebut sebelum lanjut ke objek hafalan berikutnya. Atau bisa juga mengkhusukan satu waktu untuk memuraja’ah hafalan-hafalan yang lalu, misalnya saat liburan panjang. Wallahu a’alam.

Intisari dari majlis Syaikh Al ‘Ushaimi yang saya dengar di youtube.

Alih bahasa oleh : Abu Hatim Huzaifah Ali Akbar.

Tentang Fadhil

Fadhil
LIPIA Jakarta

Check Also

Mulianya perkara shalat dan menjaga lisan

HADITS KE – 29 Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *