Artikel Hangat
Beranda / Adab / Bijak Menghadapi Perselisihan

Bijak Menghadapi Perselisihan

Kekuatan terkadang bukan untuk membantah.

Kekuatan untuk diam demi persatuan terkadang lebih dibutuhkan.

Allah ‎ﷻ berfirman:

(قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ ۚ قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا ۖ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ)
Mereka berkata, “Jika dia mencuri, maka sungguh sebelum itu saudaranya pun pernah pula mencuri.” Maka Yusuf menyembunyikan (kejengkelan) dalam hatinya dan tidak ditampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya), “Kedudukanmu justru lebih buruk. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan.” QS Yusuf: 77

Ustadz kami Husain Al-Awwad menukilkan:

اسمع ثم ابتسم ثم تجاهل.!
رحم الله امرؤا تغافل لأجل بقاء الود فنقاء القلب ليس عيباً
والتغافل ليس غباءً
والتسامح والصمت ليس ضعفاً
إنما هي تربية وقربة

“cukup dengarkan, tersenyumlah, kemudian lupakan!
Allah ‎ﷻ merahmati orang yang mengabaikan demi kelangsungan keharmonisan, karena kemurnian hati bukanlah sebuah aib, dan diam mengabaikan bukan sebuah kedunguan.
Justru ini adalah pendidikan dan ibadah (kepada Allah)”.

Saya jadi teringat sebuah quote yang dibawakan oleh Al-Jahidh Amr bin Bahr dalam kitabnya Al-Bayan wat Tabyin:

كدر الجماعة خير من صفو الفرقة
“keruhnya sebuah persatuan lebih baik daripada jernihnya perpecahan”

Dalam menjaga persatuan dalam sebuah hubungan kita harus banyak bersabar dan tidak egois demi kelangsungan tim kita. Tentunya mengurus urusan sendiri lebih mudah dan simpel, tapi yakinlah manfaat jamaah lebih besar daripada keegoisan kita.

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“dan balasan keburukan adalah keburukan yang semisalnya, namun barangsiapa yang memaafkan dan memperbaiki (hubungan) maka Allah ‎ﷻ yang akan menjamin pahalanya. Sesungguhnya Allah ‎ﷻ tidak menyukai orang-orang yang dhalim”

QS As-Syura: 40

Wallahu a’lam.

Print Friendly, PDF & Email

Tentang Achmad Handika

Achmad Handika
Mahasiswa pasca sarjana jurusan Fikih dan Ushulnya di Universitas Imam Muhammad bin Saud cabang Jakarta. Kabag. Pendidikan Ponpes Al-Manshur Al-islami Pare-Kediri-Jawa Timur.

Check Also

SILSILAH ARBA’IN NAWAWIYYA (HADITS KE 6)

Dari Abu Abdillah an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *