Artikel Hangat

Untuk penyeru kepada Tauhid

Bagian 1 dari nasihat Syaikh Shalih Sindi -hafidzahullah-

Dakwah kepada Tauhid adalah sebuah amalan mulia, perjuangan yang besar dan ladang pahal yang luas.

Sudah sepantasnya setiap orang yang berkinginan terjun ke medan yang luar biasa ini, mempersiapkan diri dengan persiapan yang matang, agar nantinya, setiap apa yang

Aku nasehatkan dengan 5 perkara, pegang ia kuat-kuat :

1. Jadilah Alim.

Kalau kau ingin menjadi pejuang tauhid, anda harus paham apa itu tauhid.

Orang yang tak berpunya, tak mungkin bisa memberi.

Bagaimana kita ingin menjadi para pejuang Tauhid, kalau kita tak paham Tauhid itu sendiri.

Bagaimana kita ingin menjauhi syirik, sedangkan kita tak tahu hal perihalnya?!.

Maka mulailah dari dirimu. Allah Ta’ala berfirman :
وَٱدۡعُ إِلَىٰ رَبِّكَۖ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ

serulah (manusia) agar (beriman) kepada Tuhanmu, dan janganlah engkau termasuk orang-orang musyrik. [Surat Al-Qashash: 87]

قُلۡ إِنَّمَاۤ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَلَاۤ أُشۡرِكَ بِهِۦۤۚ إِلَیۡهِ أَدۡعُوا۟ وَإِلَیۡهِ مَـَٔابِ

Katakanlah, “Aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali.” [Surat Ar-Ra’d: 36]

Untuk menjadi pembela tauhid dan pejuangnya, pahami dan dalami tauhid, kemudian setelahnya serukan dan ajak manusia menuju Tauhid.

Itu semua bisa terlaksana setelah engkau mengerahkan seluruh waktumu untuk belajar, menghafal, membaca dan mendengar.

Jikalau seluruh ilmu-ilmu yang ada, dirasa penting bagi seorang pelajar, maka ilmu tauhid adalah yang terpenting.

Apapun spealisasi yang engkau ambil dalam proses belajarmu, tetap jadikan ilmu tauhid yang terpenting.

Khususkan waktu dan perhatianmu untuknya.

2. Jadilah Rahiim (Penyayang)

Lemah lembut adalah salah satu asas dakwah dan sebab terbesar dakwah itu muncul. Artinya, satu perasaan yang mendorong seseorang untuk berdakwah adalah kasih sayangnya kepada saudaranya, ia ingin mereka selamat dari azab dan masuk ke dalam surganya Allah.

Seorang Da’i Tauhid, penyeru kepada Tauhid, hendaklah meletakkan hadis,
اَللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَائْتِ بِهِمْ
“Ya Allah berilah hidayah kepada Qabilah Daus”- disaat qabilah tersebut menolak dakwah Nabi shallalllahu alaihi wasallam- di depan matanya. ‏Jadikan ia sebagai moto dakwah, bahwa do’a nabi kepada para penentang adalah agar mereka diberi hidayah.

Rasa kasih sayang inilah yang harus ada pada setiap diri kita agar menjadi seorang penyeru kepada Tauhid.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mengutus duta-duta tauhid ke Negri Yaman, beliau menyampaikan pesan -sebagaimana dalam shahihain- :
بَـــشِّــــــــــرُوا وَلَا تُــنَــفِّـــرُوا
“Berikan kabar gembira dan jangan buat mereka menjauh”.

Rasa kasih sayang inilah yang akan mendorong seseorang berlemah lembut dengan audience yang akan ia ajak kepada Tauhid, bersemangat dalam memberikan kebaikan-kebaikan dan hidayah kepada orang tersebut.

Dakwah ini bukan sesuatu yang engkau bawa diatas pundakmu, lalu kemudian engkau lempar lepaskan agar engkau dapat beristirahat darinya. Dakwah tidak sesederhana itu. Ia adalah perjuangan, perhatian serta keinginan kuat agar Allah berikan hidayah kepada orang yang sedang didakwahi, walaupun itu penentang bahkan orang kafir sekalipun. Tetap harus ada kasih sayang dan dengan perasaan inilah seseorang itu bergerak berdakwah.

Bagaimana seharusnya seorang muslim melihat kepada orang yang berseberangan dengannya?

Ahli ilmu sudah menetapkan bahwa dalam memandang orang yang beselisih dengan dakwah Tauhid, terdapat dua pandangan :

Pertama : Melihatnya dengan kaca mata syariat. Sehingga para penentang ini mendapatkan apa yang berhak untuk mereka dari rasa cinta, benci, peringatan dan ancaman, dsb. Hal itu didasari dengan fakta bahwa tali keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.

Kedua : Melihatnya dengan kaca mata takdir. Sehingga orang-orang yang menentang ini tetap disikapi dengan kasih sayang, sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam di akhir Al Hamawiyah, beliau katakan : Ketika engkau melihat mereka dengan kaca mata Qadar (mereka ini penuh dengan kebingungan, syaithan juga menguasai mereka), engkau harusnya mengasihani mereka, berlemah lembut kepada mereka. Orang-orang ini diberikan kecerdasan tapi tidak diberikan kejernihan dalam berpikir. Mereka diberikan pemahaman, namun tidak diberikan ilmu yang bermanfaat. Jika demikian keadaan mereka, maka berusahalah untuk memberikan manfaat kepada mereka semampumu.

Tentang Fadhil

LIPIA Jakarta

Check Also

Cinta Dan Ketenangan

(faidah Risalah Ibnul Qoyyim ila ahadi Ikhwanihi) “Teruntuk saudaraku Alauddin, semoga Allah menjadikan engkau pengajar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Send this to a friend