Artikel Hangat

Cinta Dan Ketenangan

(faidah Risalah Ibnul Qoyyim ila ahadi Ikhwanihi)

“Teruntuk saudaraku Alauddin, semoga Allah menjadikan engkau pengajar serta pengajak kepada kebenaran dan selalu memberi kebaikan bagi siapapun yang duduk bersamamu dimanapun engkau berada”

Kalimat do’a inilah yang menjadi pembuka surat Sang imam teruntuk saudaranya. Sebuah surat yang menjadi bukti keikhlasan sang Imam dalam menasehati dan menyebarkan ilmunya, hingga dengan ketulusan itu, Risalah beliau sampai ke tangan kaum muslimin; pemerhati karya karya beliau.

Bahasan menarik selalu tersaji dalam setiap karya karya beliau.
Dengan dibalut Bahasa yang fasih lagi dalam maknanya, tentunya memiliki nilai nilai tersendiri di kalangan Thullabul ilmi.

Seperti risalah ini, setelah beliau memulai dengan do’a do’a baik untuk yang dituju, Beliau mengisyaratkan satu pelajaran penting tentang pertemanan; Bahwa siapapun yang jika engkau duduk bersama mereka, waktumu terbang entah kemana, imanmu pergi jauh ke semesta, tak baik untuk kau jadikan rekan dalam hidup, karena setiap ketergelinciran hamba ke dalam keburukan, salah satunya disebabkan oleh rusaknya hati dan sia-sianya waktu.

Imam Ibnul Qayyim dalam Risalah nya juga sempat menyinggung tentang pensucian hati, Ba Tazkiyatunnufus beliau bawakan dengan topangan dalil dalil Kitab dan Sunnah, termasuklah beliau menukil ayat :

ألا بذكر الله تطمئن القلوب
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.

Merupakan ayat yang menjadi persaksian bahwa ketenangan yang hakiki ada pada mengingat Allah.

Sungguh amat salah mereka yang sudah mengetahui bahwa ketenangan jiwa ada pada mengenal Allah, mengesakanNya, rindu untuk melihat wajah Nya, Masih mencari cinta dan ketenangan pada hal yang dimurkai Allah.

Jatuh bangkrut, Khamr menjadi pelarian.
Patah hati, musik jadi tempat pengaduan.

Lalu apakah ketenangan dan cinta itu ada pada yang mereka cari ?

Bukankah buah cinta akan menghasilkan ketenangan ?

Abu tammam sendiri pernah berdendang dengan syairnya

نَقِّلْ فُؤادَكَ حَيثُ شِئتَ مِن الهَوى — مالحُبُّ إلاّ للحَبيبِ الأوَّل
كَمْ مَنزِلٍ في الأرضِ يألفُهُ الفَتى — وحَنينُهُ أبداً لأوَّلِ مَنزِلِ

Pindahkanlah hatimu kemana hendak kau tambatkan
Tak lah cinta kecuali hanya pada dia yang pertama
Betapa banyak rumah yg dihinggapi sang pemuda
Namun rindunya hanya pada singgahan yang pertama

Begitulah, Kemanapun hendak mereka mencari cinta dan ketenangan, Pada akhirnya hanya dengan mengingat dan kembali pada Allah lah semua itu di dapatkan.

Rasakanlah !! Ketika hati ini sedang dirudung gundah, diterjang galau, kenikmatan semu bukanlah obat bagi segala kegelisahan tersebut. Karena kegelisahan tau kemana kacaunya harus di labuhkan.

Tentang Fadhil

LIPIA Jakarta

Check Also

Untuk penyeru kepada Tauhid

Bagian 1 dari nasihat Syaikh Shalih Sindi -hafidzahullah- Dakwah kepada Tauhid adalah sebuah amalan mulia, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Send this to a friend