Artikel Hangat
Beranda / Adab / Menghatikan Hati.

Menghatikan Hati.

Petuah hebat yang seakan sudah menjadi adat, setiap kita yang bepergian maupun yang tak akan melakukan perjalanan tak pernah luput dari kalimat-kalimat ini, ”HATI HATI”. Entah dari teman, kawan, kolega, kerabat atau mungkin dari orang tak dikenal sekalipun.

Perkara hati memang bukan perkara baru untuk diceritakan, banyak sudah rangkaian kalimat indah membawa pembacanya jauh kedalam perenungan, mengantar pendengarnya jatuh ke dalam tangisan. Sebutlah karya fenomenal Ibnul Qayyim Al-Jauziyah yang menyabet gelar buku para penunggu dan hati yang merindu Raudhatul Muhibbin Wa Nuzhatul Musytaqqiin’, cerita tentang hati banyak di diriwayatkan di dalamya. Mulai dari diri yang jatuh hati, hingga hati yang melayangkan harapan pada sebuah kefanaan. Ada !

Saudaraku.

Suatu ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata kepada para sahabatnya, dengan wajah penuh cinta dan kasih sayang, dari lisan yang penuh keindahan dan kejujuran;

إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر

“Sungguh! yang aku takutkan akan menimpa kalian adalah syirik kecil”

Para sahabat pun bertanya: apa itu syirik kecil wahai Rasulullah? hingga kau lebih menakutkan ia akan menimpa kami dari yang lain? Beliau menjawab “RIYA’’[1]

Saudaraku cinta.

Dalam perjalanan kita menuju satu destinasi, yang kita yakin tujuan yang akan kita tuju merupakan tempat kita akan tinggal dan menetap, tempat kita akan membutuhkan banyak perbekalan dan kebutuhan, tentu sebuah usaha pengumpulan merupakan hal yang wajib dilakukan. Entah itu mengumpulkan harta, tenaga atau apapun bentuknya.

Maka kerugian yang akan kita dapatkan jika usaha kita hanya berkisar pada lelah dan capai yang terasa, tak membuahkan apa-apa. Lalu? bagaimanakah lagi dengan sebuah perjalanan dengan tujuan keabadian?

Satu persatu pundi amal sudah kita coba untuk dikumpulkan, namun tenyata, pundi itu kosong dari isi, tak berfaedah sama sekali. Bukannya menjadi simpanan malah menjadi beban.

Perjalanan kita itu adalah dunia, pundi-pundi itu adalah amal, dan tujuan itu adalah akhirat.

Itu semua berawal dari hati. Jika ia tak tahu pada siapa dan kemana ia akan menuju, maka sia-sia saja lelah yg terasa. Peluh keluar, pahala tak dapat. Naudzubillah min dzalik.

Maka saudaraku, perhatikan lah hati! bukankah pengobatan tersulit adalah mengobati hati yang sudah menyeleweng dari ilahi? persis seperti yang dikabarkan sufyan ats-tsauri tentang dirinya :

ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي

“Tidaklah aku mengobati sesuatu yang teramat sulit bagiku pengobatannya dari pada niatku; ia selalu berubah karenaku.”

Begitulah hati, tak mungkin ia dinamakan hati kecuali karena butuhnya ia pada penghati-hatian. Seperti Qalbu dalam Bahasa Arab, tidaklah ia dinamakan qalbu kecuali karena cepatnya ia bertaqallub atau berubah.

Saudara!

Peringatan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada sahabatnya tentang apa yg paling ia takutkan akan menimpa mereka, sebenarnya lebih tepat jika kita yang merasa, secara kita merupakan hamba kecil yang tak mungkin tetap hatinya, tak lebih hebat dari para sahabat.

Kita tahu, begitu mudahnya keinginan awal kita dalam menuntut ilmu berubah pada sesuatu yang jauh dari apa yang diharapkan terjadi, seperti niat kita yang ingin mengangkat kebodohan akan ilmu dari diri, menjadi keinginan mengangkat diri dari manusia lainnya, meninggi. Padahal kita tahu bahwa ahli ilmu yang tak berhati-hati dengan hatinya, akan menjadi korek api neraka kelak di hari akhir. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Kita juga tahu begitu mudahnya sanjungan merubah segala ketetapan, yang awalnya menetap pada satu kemurnian, hingga berubah menjadi belasan tujuan.

Seharusnya, perjalanan kita diantara kitab dan ilmu akan menghantarkan kita pada satu kemenangan.

Sejatinya, perjalanan kita diantara sajadah yang terbentang dan sujud yang mendalam, akan menghantar kita pada satu kemuliaan.

Namun karena hati yang terkadang lari dari pengawasan, keinginan untuk satu tujuan menjadi bercabang, hingga kita menduakan apa yang harusnya kita fokuskan.

فلواحد كن واحدا في واحد

Untuk (Rabb) Yang Satu , jadilah satu dalam kesatuan.

Semoga kita  diberi taufik oleh Allah untuk selalu perhatian terhadap hati. Karena tak ada yang lebih harus kita hati-hati padanya melainkan pada sebuah hati.

Maka, HATIKANLAH HATI !

✏Abu Ali Huzaifah Ali.
Masjid Umar Bin Khattab, Pekanbaru, Riau

Tentang Fadhil

Fadhil
LIPIA Jakarta

Check Also

Menyentak kelalaian diri

(Nasehat untuk sekalian penulis) Prolog ”Sejak kapan kau bisa bermain kata-kata? apa sejak dirimu meninggi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *