Artikel Hangat
Beranda / Fikih / Puasa Adalah Bukti Tauhid

Puasa Adalah Bukti Tauhid

Puasa adalah Bukti Tauhid

Dalam banyak hadis Rasulullah ‎ﷺ‎ menyebutkan ciri-ciri kesempurnaan iman, seperti memuliakan tamu, tetangga, berkata baik, bersabar, bersedekah, sholat dll.

Namun dari sekian banyak ibadah Allah ‎ﷻ‬ hanya mengistimewakan satu ibadah yang Ia khususkan untuk diri-Nya. Ibadah yang dimaksud adalah puasa, Rasulullah ‎ﷺ‎ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ،

“Semua amalan anak Adam dilipatgandakan kebaikannya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, Allah ‎ﷻ‬ berfirman: kecuali puasa, sesungguhnya dia adalah milikku dan aku sendiri yang akan membalasnya” HR Bukhari dan Muslim (redaksi milik Muslim).

Apa rahasianya? Mengapa puasa begitu istimewa?

Pertama, para ulama menjelaskan bahwa puasa adalah salah satu wujud kesabaran yang terbesar, dan Allah telah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberikan pahala yang tak terhingga” QS: Az-Zumar: 10.

Ketiga jenis sabar semuanya terkumpul di dalam ibadah puasa:

1. Bersabar menjalankan ketaatan.
2. Bersabar dari bermaksiat, baik maksiat perut, lisan, mata, telinga, dan kemaluan.
3. Bersabar dari hal-hal yang menimpanya berupa sakitnya menahan lapar, dahaga, terik panas dan lainnya.

Rasulullah ‎ﷺ‎ dahulu tetap puasa meski panas terik menyengat beliau dan beliau dalam keadaan safar, hanya Abdullah bin Rawahah yang menemani beliau, sahabat yang lain tak kuat lagi melanjutkan puasa.

Di kesempatan lain beliau sampai mengguyurkan air ke atas kepala beliau karena saking haus dan panasnya kota Madinah di bulan Ramadhan. Semua kisah ini ada dalam riwayat Bukhari, Muslim dan Imam Malik.

Sebab keistimewaan puasa yang lain adalah, sebagaimana kita tahu bahwa dalam syariat islam ada hal-hal yang menyebabkan pahala dilipat gandakan, seperti:
1. Tempat, dimana Rasulullah ‎ﷺ‎ mengatakan bahwa sholat di masjid Nabawi lebih baik dari sholat di masjid lain hingga 1000 derajat selain masjidil Haram. HR Bukhari dan Muslim.

2. Waktu, seperti umrah pada bulan Ramadhan yang di janjikan oleh Rasulullah ‎ﷺ‎ pahala seperti haji bersama beliau. HR Bukhari dan Muslim.

3. Atau sebab sebab yang lain seperti niat, ketakwaan pelakunya dll.

Nah puasa pada bulan Ramadhan juga demikian adanya.

Ketiga, Allah ‎ﷻ‬ mengkhususkan puasa untuk diri-Nya maksudnya adalah karena amalan puasa ini adalah amalan yang tidak ada orang yang tahu kecuali Allah ‎ﷻ‬ bahkan kemungkinan berbuat riya’ pun sangat kecil dari amalan ini karena ibadah ini berupa meninggalkan syahwat. Syahwat makan, minum, bicara, mendengar, dan farjinya. Semua syahwat tersebut adalah tabiat manusia, namun dia rela tinggalkan karena Allah ‎ﷻ‬ karena dia beriman bahwa Allah ‎ﷻ‬ mengawasinya, karena dia percaya bahwa Allah ‎ﷻ‬ yang akan membalasnya, dan sangat beruntung orang yang meninggalkan kenikmatan yang ada di depan matanya untuk kenikmatan yang ghaib belum pernah dia lihat, karena hal ini menunjukkan besarnya tauhid dalam hatinya. Dia dahulukan Ridha Allah ‎ﷻ‬ dari pada ridha nafsunya. Oleh karena itu ibadah puasa sangat istimewa hingga Allah ‎ﷻ‬ khususkan untuk diri-Nya.

Apalagi jika semua perbuatan tadi didasari cintanya kepada Allah ‎ﷻ‬ dan ia benci melihat dirinya melakukan apa yang Allah ‎ﷻ‬ benci.

Ia rela berkata:
ya Allah, luka ini jika terkoyak karena-Mu maka tak ada rasa sakitnya….
tersiksanya diriku karena-Mu manis rasanya….
Jauhnya diriku karena-Mu dengan dekat tidak berbeda….
Engkau bagiku aku cintai seperti rohku…
Bahkan Engkau daripadanya lebih kucinta….
Cukuplah bagiku merasakan cinta….
Ketika semua yang kau cinta kucinta….
Demikianlah seharusnya puasa menjadi madrasah bagi hati manusia agar mengerti nilai-nilai tauhid yang terkandung di dalamnya.

Wallahu a’lam.
===============
📚📚📚
– Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hanbali.
– Hujjatullahil Balighah, Waliyullah Ahmad bin Abdirrahim Ad-Dahlawi.

Print Friendly, PDF & Email

Tentang Achmad Handika

Achmad Handika
Mahasiswa pasca sarjana jurusan Fikih dan Ushulnya di Universitas Imam Muhammad bin Saud cabang Jakarta. Kabag. Pendidikan Ponpes Al-Manshur Al-islami Pare-Kediri-Jawa Timur.

Check Also

SILSILAH ARBA’IN NAWAWIYYA (HADITS KE 6)

Dari Abu Abdillah an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *