Artikel Hangat
Beranda / aqidah / Sejarah Syirik Umat Terdahulu

Sejarah Syirik Umat Terdahulu

Ketika Nabi Adam wafat, tugas-tugasnya digantikan oleh anaknya yang bernama Syits, saat itu masih belum ada kesyirikan menurut pendapat yang shahih.

Ketika Syits hendak wafat, ia mewasiatkan kepada anaknya yang bernama Anusy, kemudian setelahnya anaknya yang bernama Qaiynan, kemudian anaknya Mihlail, kemudian anaknya Yarud.

Di antara peristiwa yang disebutkan oleh sebagian ahli sejarah selama rentang masa tersebut adalah, ketika Qabil membunuh Habil, ia lari meninggalkan ayahnya menuju Yaman, iblis pun datang ia membisiki: Sesungguhnya Habil kurbannya diterima dan dimakan oleh api karena dia berkhidmat untuk api dan menyembahnya, maka kamu buat juga api untuk dirimu dan keturunanmu. Maka ia membangun rumah api. Sehingga ia adalah orang pertama yang meletakkan api dan menyembahnya. (At-Thabari dalam Tarikhnya 1/165)

Kemudian ketika tiba masa Nabi Nuh, beliau diutus Allah kepada manusia yang menyembah berhala dan thaghut, ketika manusia mulai terjerumus dalam kesesatan dan kekafiran. Beliau adalah Rasul pertama yang diutus untuk membawa rahmat.

Disebutkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari bahwa syirik yang terjadi pada kaum Nabi Nuh ada tiga pendapat:

  1. Mereka sepakat untuk mengerjakan apa yang diharamkan Allah, baik mengerjakan kekejian, meminum khamr, dan sibuk dengan hal-hal yang melalaikan dari ketaatan.
  2. Mereka dahulu adalah orang-orang ta’at, kemudian ada yang menampakkan perkataan As-Shabi’in.
  3. Adapun dalam Kitabullah, maka disebutkan bahwa mereka menyembah berhala. Ini adalah pendapat yang paling kuat. Dua perkataan di atas hanya perkiraan atau prediksi para ahli sejarah.

Allah Ta’āla berfirman:

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا (21) وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا (22) وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. (QS. Nuh 21-23)

Ibnu Abbas – Radhiyallahu Anhuma –  menjelaskan tafsir ayat diatas : “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh, ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada kaumnya agar meletakkan sesuatu di majelis mereka dahulu dan diberi nama dengan nama-nama mereka, maka mereka pun melakukannya, saat itu masih belum disembah, sampai ketika mereka semua sudah wafat, ilmu pun hilang, akhirnya disembah”. (HR. Bukhāri 4920)

Kemudian pada masa kaum ‘Aad, mereka melakukan kesyirikan kepada Allah dalam beberapa hal yang berkaitan dengan beberapa masalah pada Tauhid Rububiyah, sekalipun mereka tidak sampai mengingkari Rububiyah Allah.

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. (QS. Fusshilat 15)

Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa jenis kesyirikan mereka adalah menyembah berhala. (Lihat Tarikh Umam wa Al-Muluk 1/216, Al-Bidayah wa An-Nihayah 1/121, AL-Kamil oleh Ibnul Atsir 1/48)

Di antara kesyirikan mereka juga adalah menganggap bahwa manfaat dan bahaya tergantung pada berhala mereka. Mereka mengatakan:

إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. Hud 54)

Kemudian tiba masa Kaum Tsamud, mereka adalah kaum Nabi Shalih, kesyirikan mereka adalah menyembah berhala, melakukan keyisirikan dalam beribadah. Di antara jenis kesyirikan lainnya adalah tathayyur (merasa sial dengan burung atau lainnya).

قَالَ يَاقَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (46) قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ

Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji”. (QS. An-Naml 47)

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”. (QS. Hud 61)

Kemudian tiba masa kaum Nabi Ibrahim. Kaum Nabi Ibrahim disebut dengan As-Shabi’ah, yaitu orang yang meninggalkan agamanya dan memeluk agama lain, digunakan juga untuk menyebut para penyembah bintang. (Lihat Lisanul Arab 7/267 dan Al-Milal wa An-Nihal oleh As-Syihristani)

Mereka melakukan dua macam kesyirikan, yaitu kesyirikan dalam Rububiyah dan dalam Uluhiyah.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah 258)

Mereka juga memahat patung berhala dan menyembahnya.

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ (95) وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. As-Shaffat 95-96)

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya 52)

Kemudian kesyirikan kaum Nabi Luth, selain mereka melakukan kesyirikan, mereka juga mengerjakan perbuatan keji yang tidak pernah dilakukan orang sebelum mereka. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 16/249)

Kemudian kesyirikan kaum Nabi Yusuf, disebutkan dalam Al-Qur’an:

Yusuf berkata: “Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Yusuf 37-40)

Kemudian kesyirikan kaum Nabi Musa, mereka menyembah berbagai macam tuhan, di antaranya bintang, matahari, binatang, seperti sapi, kera, kucing dan lainnya. Bahkan Fir’aun mengaku bahwa dirinya adalah tuhan, ia memaksa kaumnya untuk menyembah dan mentaatinya.

وَنَادَى فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَاقَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلَا تُبْصِرُونَ (51) أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ (52) فَلَوْلَا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلَائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ (53) فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)? Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?” Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (QS. Az-Zukhruf 51-54)

Kemudian kesyirikan kaum Yahudi yang banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Di antaranya menyifati Allah dengan berbagai sifat yang kurang dan tidak pantas, seperti mengatakan bahwa Uzair adalah anak Allah, tangan Allah terbelenggu, Allah fakir dan lainnya.

Kemudian kesyirikan pada masa Nabi Isa, kaum Nabi Isa meyakini trinitas, menuhankan Isa dan Ruhul Kudus dan lainnya.

Demikianlah sejarah syirik pada zaman umat-umat terdahulu. Wallahu a’lam.

Print Friendly, PDF & Email

Tentang Fadhil

Avatar
Mahasiswa LIPIA Jakarta

Check Also

SILSILAH ARBA’IN NAWAWIYYA (HADITS KE 6)

Dari Abu Abdillah an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *