Artikel Hangat
Beranda / Faidah / Sehebat itukah cintamu?

Sehebat itukah cintamu?

(Tentang cinta di Rabiul Awwal)

Lembaran kuning itu baru saja selesai kami lahap, rangkaian kisah menakjubkan tentang mereka berhasil di bawa DR. Ra’fat Basya ke relung setiap pembacanya.

Kami seakan bertemu pejuang islam kala itu, ada Abu Bakr, seorang yang jujur dalam iman dan cinta. Tak usahlah kami ceritakan di sini, tinta hitam ini terasa terlalu rendah untuk menulis kisah emas Ash-Shiddiq itu.

Kami juga bertemu Umar bin Khattab, seorang yang tiada tandingnya diantara kesatria quraisy. kita tahu kan? Di saat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tutup usia, ia berang sambil menghunus pedang “akan ku tebas setiap yang berkata Rasulullah telah tiada..” katanya, Kita kira ia begitu karena apa? Apakah dia begitu rendah hendak menunjukkan taringnya disaat madinah berduka?

Tidak !!! Melainkan karena CINTA, itu semua karena cinta. Siapa pula yang tak bergetar hatinya, disaat kasihnya tak lagi menyahut saat di panggil, tak lagi mendengar saat di sapa.

Dr.Ra’fat Basya memang cerdas, kata-kata dalam rangkaian kisahnya seakan membawa kami di medan itu, di bawah gunung yang kita cinta ia, dan ia pun cinta kita, UHUD.

Kala itu kuffar quraisy telah terpukul mundur, pejuang kita pun telah maju hendak menghabisi. namun, di atas bukit ar-rumah (begitu kita menyebutnya sekarang) terjadi sedikit kesalahan, beberapa pemanah yang harusnya tetap berjaga di ketinggian, berijtihad untuk turun mengumpulkan ghanimah dengan maksud ketika nanti saat rekan mereka sudah kembali dari pengejaran quraisy yang tengah mundur, mereka tak usah bersusah mengumpulkannya, sungguh bentuk perhatian mereka terhadap sahabat-sahabat mereka. Lalu, kau tahu kelanjutannya? Ijtihad mereka ternyata kurang tepat, perintah Rasulullah agar tetap berjaga punya hikmah yang besar. Saat kekosongan itu terjadi, seorang Khalid bin Walid (sebelum masuk islam) melihat celah di sisi gunung Uhud, Ia membawa pasukannya menghabisi kaum muslimin dari arah belakang. Keadaan yang semula berpihak pada kaum muslimin, kini berubah. Kaum muslimin kocar-kacir, tak tentu arah. Bahkan keberadaan Rasulullah pun tak diketahui.

Saat itulah seorang Thalhah yang melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tengah menjadi sasaran empuk bagi musuh, berlari ke arah tersebut. Jarak yang sebetulnya dekat namun terasa begitu melelahkan sebab di setiap jengkalnya dipenuhi puluhan pedang dan tombak yang menghadang. Darah yang ia lihat mengalir di pipi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi pelecutnya untuk semakin menguatkan diri menyelamatkan Rasulullah. Thalhah kemudian mampu mengambil posisi di depan nabi untuk mejauhkan pedang-pedang musuh dan memposisikan Nabi shallallahu alaihi wasallam di tempat yang aman.

“Aku adalah orang pertama yang sampai ke tempat Nabi, tetapi beliau berkata kepadaku dan kepada Abu Ubaidah, ‘Tolonglah saudaramu!’ lalu kami pun melihat ke arah Thalhah dan tiba-tiba kami temukan lebih dari 70 luka bekas sayatan pedang dan hujaman tombak menghiasi tubuh Thalhah. Kami juga dapati jari-jarinya terputus lalu kami berusaha menyembuhkannya,” kata Abu Bakar mengisahkan tentang harinya Thalhah, Yaumul Uhud.

Dan kau pasti tahu, pengorbanan seorang Thalhah bukan tanpa alasan, pelecutnya adalah cinta, mengharapkan keselamatan akan kekasih yang patut dicinta.

Semua kisah dalam Suwar Min Hayatish Shohabah nya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya bolak-balik bercerita tentang perjuangan, tentang cinta, tentang pengorbanan. Atas semua lembaran itu, apa kita tidak malu?

Sehebat apa cintamu? Hingga mengalahkan cinta Utsman terhadap Rasulullah? hingga mengalahkan cinta zaid bin tsabit terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?
Jika kisah mereka berbatas, akan kami tulis disini, namun kau tahu kan? Malah sebaliknya.

Kita heran terhadap setiap mereka dengan pengakuan cinta nya, bukankah cinta para Sahabat terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tiada taranya? Lalu, apa pernah kita mendengar sepeninggal Nabi shalallahu alaihi wasallam para sahabat berkumpul pada hari kelahiran nabi mengingat setiap perjuangan Nabi? Atau bernostalgia, membuat acara memuji setiap kemuliaan nabi, pada hari kelahirannya?

Jika pernah, datangkan buktinya!!

Jika tak pernah, apa cinta para sahabat telah mati setelah wafatnya Nabi???

Huzaifah ali akbar.
LIPIA, Jakarta 15 rabiul awwal 1440.

Tentang Fadhil

Fadhil
LIPIA Jakarta

Check Also

Menyentak kelalaian diri

(Nasehat untuk sekalian penulis) Prolog ”Sejak kapan kau bisa bermain kata-kata? apa sejak dirimu meninggi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *