Artikel Hangat
Beranda / Adab / KOLEKSI BUKU, MANFAAT APA MUDHOROT?

KOLEKSI BUKU, MANFAAT APA MUDHOROT?

Kami baru saja selesai membaca catatan “aku dan buku” milik ustaz Abu Fairuz Aan Chandra thalib -semoga Allah menjaganya-. Membaca catatan-catatan itu membuat kami kembali melirik pada diri kami sendiri, sejauh mana perjuangan ini untuk dekat dengan para ulama?

Bercerita tentang perjuangan mengoleksi literatur karya para ulama, kami jadi teringat banyak kisah tentang perjuangan para salaf dalam mengoleksi kitab ulama. Sebut saja kisah seorang Abu Ja’far Ahmad Al Qashiri yang menjual bajunya untuk membeli kitab sebagaiman tercantum dalam Al-a’lam karya Az-Zikrili. Atau tentang Sanad bin Ali, seorang teman dekat al-makmun yang menjual hewan tunggangan ayahnya hanya untuk membeli kitab. Atau kisah tentang syekh Ahmad Al-Hajjar yang menjual baju yang tengah dipakainya untuk membeli kitab, sebagaimana diceritakan oleh penulis kitab shafahat min shabril ulama; syekh Abdul fattah, dari gurunya syekh Raghib Ath-Thabbakh -semoga Allah merahmati mereka semua.

Kisah kisah hebat perjuangan mereka bisa kita lihat salah satunya di dalam kitab shafahat min shabril ulama karya syekh Abdul Fattah yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dengan judul ”Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama”, cetakan pustaka Zam-zam tahun 2008.

Demikianlah, para ulama salaf sangat menyadari pentingnya mengumpulkan kitab. Kita temukan pada diri mereka semangat yang tinggi untuk membeli kitab.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata dalam biografi Ibnul Qayyim rahimahullah, “Beliau (Ibnul Qayyim) sangat gemar mengumpulkan kitab sehingga beliau  memiliki kitab yang tidak terhingga banyaknya. Sampai-sampai anaknya menjual kitab-kitab itu setelah beliau meninggal dalam kurun waktu yang lama, kecuali kitab-kitab yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri.”

Imam Al-Mundziri rahimahullah berkata, “Al-Hafidz As-Silafi rahimahullahu adalah orang yang sangat gemar mengumpulkan kitab. Setiap kali memiliki uang, beliau akan menggunakannya untuk membeli kitab. Beliau memiliki koleksi kitab yang tidak ada habis-habisnya apabila dipandang.”

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam biografi Al-Qadhi Abdurrahim bin Ali Al-Lukhai rahimahullah,”Telah sampai berita kepada kami bahwa beliau memiliki kitab sampai 100.000 jilid. Beliau mengumpulkannya dari seluruh pelosok negeri.”

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam biografi Muhammad bin Abdullah As-Sulami Al-Marsi rahimahullah,”Menulis, membaca, dan mengumpulkan banyak kitab yang berharga. Harta beliau digunakan untuk membeli kitab.”

lalu, di mana kita diantara semangat mereka?? kita yang mengaku dan menasabkan diri pada ilmu. namun pada perjuangan atas nya kita malah memilih melemah. Dasar kita kaum rebahan.

Mengumpulkan banyak kitab? Bolehkah??

Mungkin, yang sering menjadi kendala kita, dalam mengumpulkan kitab kitab para ulama adalah takut tidak dibacanya kitab kitab tersebut. takut kelak akan memperberat timbangan hisab di hari akhir. memang, permasalahan hisab tak dapat kita elakkan. setiap apa yang kita miliki, baik itu yang bermanfaat maupun tidak bermanfaat, pastilah akan dimintai pertanggung jawabannya.

Terlepas dari itu semua, kami teringat sebuah pertanyaan yang senada dengan pertanyaan di sub judul di atas. Pertanyaan ini dilontarkan oleh seorang pegiat ilmu dan kolektor kitab ulama kepada syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah yang kala itu menjabat  sebagai ketua haiah kibaril ulama. begini bunyinya (dikutip dari almanhaj.or.id) :

Pertanyaan :

Saya seorang laki-laki yang memiliki banyak buku yang bermanfaat, alhamdulillah, termasuk juga buku-buku rujukan (maraji’), tapi saya tidak membacanya kecuali memilih-milih sebagiannya. Apakah saya berdosa karena mengoleksi buku-buku tersebut di rumah, sementara, ada beberapa orang yang meminjam sebagian buku-buku tersebut untuk dimanfaatkan lalu dikembalikan lagi?

Jawaban :

Tidak ada dosa bagi seorang muslim untuk mengoleksi buku-buku yang bermanfaat dan merawatnya di perpustakaan pribadinya sebagai bahan rujukan dan untuk mengambil manfaatnya serta untuk dipergunakan oleh orang lain yang mengun-junginya sehingga bisa ikut memanfaatkannya. Dan tidak berdosa jika ia tidak membaca sebagian besar buku-bukunya tersebut. Tentang meminjamkannya kepada orang-orang yang dipercaya bisa memanfaatkannya, hal ini disyari’atkan di samping sebagai sikap mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, karena dalam hal ini berarti memberikan bantuan untuk diperolehnya ilmu, dan ini termasuk dalam cakupan firman Allah ﷻ.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa.” [Al-Ma’idah/5: 2]

Juga termasuk dalam cakupan sabda Nabi ﷺ

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

“Dan Allah senantiasa menolong hambaNya selama hamba itu menolong saudaranya.” (Fatwa Hai’ah Kibaril Ulama, juz 2, hal. 969, Syekh Ibnu Baz)

Bahkan, jika ditanya apa baiknya mengoleksi kitab ulama?

Kita katakan : Bukankah dengan mengumpulkan sebanyak mungkin kitab syar’i yang bermanfaat dan bersemangat untuk mengumpulkannya merupakan sarana yang dapat membantu kita untuk membakar dan mengobarkan api semangat menuntut ilmu syar’i.

Mengapa demikian?? Hal ini disebabkan:

  1. Jika seseorang mengumpulkan kitab dan menyusunnya dalam perpustakaan rumah atau ruangan khusus di rumahnya, maka ketika dia memandang deretan buku-buku tersebut yang telah dicetak dengan cetakan yang indah dan menarik, pastilah tergerak motivasinya untuk membaca sebagian buku tersebut walaupun sejenak saja. Karena ketika dia memandang kitab-kitab itu, dia akan teringat dengan kesungguhan yang dicurahkan oleh para ulama salaf dalam menulis, menyusun, dan mengumpulkan kitab-kitab tersebut. Dia juga akan teringat dengan berbagai kesulitan yang dihadapi dalam menulisnya. Saat itulah dia akan membandingkan dengan keadaan dirinya sendiri, “Wahai jiwaku, apa yang telah Engkau perbuat? Apa yang telah Engkau persembahkan?”
  2. Ketika dia melihat kitab-kitab yang banyak di perpustakaannya dan belum terbaca, dia akan bertanya pada dirinya, “Sampai kapan aku mengumpulkan kitab dan tidak membacanya?” Kemudian mencela dirinya, “Wahai jiwaku, bukanlah suatu aib dalam mengumpulkan banyak kitab. Bahkan hal itu sesuatu yang sangat terpuji dan memiliki banyak keutamaan. Namun, yang menjadi aib adalah ketika Engkau meninggalkan untuk membacanya. Maka sadarlah dari kelalaianmu dan bangunlah dari tidurmu!”
  3. Terkadang seseorang mengalami kesusahan, kegelisahan, dan kesedihan sehingga mendorong dirinya untuk melakukan apa saja agar bisa melupakannya. Sehingga ketika dia melihat kitab yang tersusun di perpustakaannya, dia akan mengambil kitab yang dapat diraih oleh jangkauan tangannya untuk dibaca. Terkadang, tidaklah dia meninggalkan kitab itu sampai menyelesaikannya.

  1. Menginfakkan harta untuk membeli dan mengumpulkan kitab adalah amal kebaikan. Sehingga orang tersebut diberi pahala di dunia dan dia akan memperoleh manfaat setelah dia meninggal dan berada di dalam kuburnya. Ketika dia mewasiatkan kitab-kitab itu bagi orang yang mau mengambil manfaat darinya atau mewakafkannya kepada lembaga-lembaga keislaman, masjid, atau perpustakaan umum, maka tentu ini adalah kebaikan yang sangat besar.

Jadi, manfaat atau mudaratkah mengoleksi banyak buku?

Kami tak akan memberikan jawaban pasti dalam masalah ini. Semuanya tergantung pada individu masing-masing, apakah tujuan dia mengumpulkan buku-buku tersebut. Apa untuk dimanfaatkan dirinya dan orang banyak? Atau hanya sekedar pelepas hawa nafsu dan berbangga pada banyaknya koleksi?

Jika yang pertama, maka kita harapkan ganjaran dari Allah atas niat baik tersebut.

Jika yang kedua, cukuplah firman Allah dalam surah At-Takatsur ayat pertama menjadi pengingat.

Pada akhirnya, perkara kumpul mengumpulkan buku dan kitab para ulama merupakan titisan para salaf. Dan Sejatinya, seorang thalibul ilmi ber-qudwah dengan mereka, tentunya dengan tetap menjaga kelurusan niat. Semoga saja dengan itu semangat menuntut ilmu semakin menjadi, semangat untuk menulis pun membara, dan semoga juga Allah memberkati setiap harta yang keluar di jalan menuntut ilmu agama-Nya.

 

Washallahu wasallam ala nabiyyina muhammad.

Semangat kolektor!!! Semoga bermanfaat.

Dikumpulkan dan ditambah serta diubah dari beberapa referensi oleh Abu hatim Huzaifah Ali Akbar.

Tentang Fadhil

Fadhil
LIPIA Jakarta

Check Also

Binasa karena cinta

من أحب شيئاً وقدمه على طاعة الله، عُذب به “Yang mendahulukan kecintaannya pada sesuatu, sehingga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *