Artikel Hangat
Beranda / Faidah / Hubungan Angka Ayat Al-Qur’an Dengan Peristiwa Besar

Hubungan Angka Ayat Al-Qur’an Dengan Peristiwa Besar

Dalam peristiwa-peristiwa besar mungkin kita pernah menemukan penjelasan atau tulisan yang intinya adalah sebagai berikut:

Ada hubungan kecocokan antara tanggal, bulan dan tahun kejadian peristiwa tersebut dengan nomor ayat, nomor surat dan jumlah ayat surat tersebut dalam Al-Qur’an, kemudian diambil suatu kesimpulan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang benar, atau lebih dari itu, ditemukan suatu isyarat rahasia mengenai peristiwa tersebut yang tersembunyi pada ayat yang disebutkan.

Mereka ada yang menyebutnya dengan I’jaz Ilmi atau Tafsir Ilmi, karena seakan-akan Al-Qur’an sudah mengisyaratkan peristiwa yang akan terjadi tersebut sejak dahulu, menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang agung dan bukan karya makhluk.

Dari sudut penamaan I’jaz Ilmi sendiri sebenarnya tidak selamat dari beberapa kelemahan, karena justru penamaan yang lebih tepat adalah Dala’il Shidqi Al-Qur’an (bukti-bukti kebenaran Al-Qur’an) bukan i’jaz (bisa diartikan sesuatu yang tidak dapat ditandingi dan di luar kebiasaan), begitupula penisbatan kepada istilah Al-Ilmi pun perlu ditinjau ulang, karena menyebabkan bisa difahami bahwa tafsir-tafsir selain itu tidak ilmiah.

Kembali pada praktik yang dilakukan sebagian orang dalam menghubungkan ayat Al-Qur’an dengan tanggal peristiwa tertentu, uniknya yang sering digunakan adalah angka penanggalan masehi, bukankah lebih pas jika menggunakan penanggalan hijriyah atau qomariyah? Apakah Al-Qur’an lebih mengedepankan penggunaan penanggalan masehi daripada hijri?

Ini menunjukkan bahwa kecocokan tersebut hanya kebetulan yang tidak ada artinya. Bahkan jika dicermati, terkadang sebab turunnya ayat yang dihubungkan sangat tidak ada hubungannya dengan peristiwa yang disebutkan.

Kemudian harusnya kita tanyakan pula, siapa yang menjamin bahwa itu adalah sesuatu yang diinginkan maksudnya oleh Allah? Lalu apa bukti dan dasar pernyataan tersebut?

Jika dia mengatakan bahwa ini bukan semata-mata kebetulan, ini adalah bukti kebesaran Allah dan kebenaran Al-Quran. Maka masih ada beberapa point berikut yang seharusnya dipertimbangkan dan tidak terlewatkan:

Urutan juz dalam mushaf Al-Qur’an ditentukan di masa belakangan, bukan tauqifi atau ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga urutan tersebut sifatnya perkara yang didasari oleh ijtihad.

Mengenai urutan surat, ulama terbagi menjadi dua pendapat; sebagian mengatakan bahwa itu sifatnya ijtihadiyah, sebagian yang lain mengatakan itu adalah tauqifi. Pertanyaannya apakah penemu kecocokan tersebut sudah mempelajari dan meneliti masalah ini dengan baik agar hasil penemuannya benar? Atau bahkan tidak mengetahui hal ini sama sekali?

Apakah penemu kecocokan tersebut mengetahui ada ilmu yang disebut dengan Ilmu ‘Add Al-Aayi, yaitu ilmu hitungan ayat-ayat? Apakah dia tahu bahwa satu surat ada perselisihan pendapat tentang jumlah ayatnya? Ada hitungan kufi, ada hitungan syami dan lainnya? Apakah dia sudah mempelajari dan meneliti masalah ini dengan cermat?

Kemudian apakah penemu memiliki ilmu tentang tafsir, mengetahui kaidahnya, menelaah ulumul qur’an, atau setidaknya minimal membaca tafsir tentang ayat yang sedang ia telusuri, riwayat-riwayat tentang ayat tersebut dari nabi, para sahabat, ulama salaf dan seterusnya?

Jadi apa standar ilmiah yang dimaksudkan dalam i’jaz ilmi tersebut?

Baiklah mungkin kita terlalu jauh melangkah dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Padahal masalahnya sederhana saja, yaitu karena kita hidup di masa yang dikusai oleh orang-orang yang bisa mendatangkan keanehan dan keunikan, artinya siapapun yang menemukan keanehan dan keunikan pasti dianggap hebat dan menarik.

Padahal yang benar adalah ilmu memiliki pintu, siapa yang memasukinya bukan melalui pintunya maka ia akan keluar membawa apa saja yang tidak dapat diterima akal sehat, kemudian tidak akan disambut kecuali oleh orang-orang yang tertipu.

Jika ilmu adalah sekedar mengkait-kaitkan dan menghubung-hubungkan, tentu sangat mudah dilakukan semua orang.

Tidak perlu menunjukkan keagungan Al-Qur’an dan kebenarannya dengan cara yang memaksakan semacam itu, terlebih cara itu bukan pula satu-satunya jalan, sesuatu yang ilmiah sendiri pun terkadang tidak cukup untuk membuat orang percaya, terkadang butuh kekuatan lain yang mendukungnya agar orang mempercayainya.

Beberapa poin ini disebutkan oleh Syaikhuna Dr. Musa’id At-Thayyar dalam buku beliau Mafhum At-Tafsir wa At-Ta’wil di footnote halaman 7.

Fida’ Munadzir Abdul Lathif

10 Mei 2020

Print Friendly, PDF & Email

Tentang Fadhil

Avatar
Mahasiswa LIPIA Jakarta

Check Also

Menjalankan Syariatnya

HADITS KE – 22 Dari Abu ‘Abdillah Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya ada seseorang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *