Artikel Hangat
Beranda / Faidah / Cinta dan Tauhid

Cinta dan Tauhid

Cinta ada beberapa macam:

Pertama: Mencintai Allah

Yaitu cinta yang melazimkan tunduk dan pengagungan, seorang hatinya tunduk pada siapa yang ia cintai dan mengagungkannya, sehingga ia melakukan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Maka ini khusus hak Allah dan hanya ditujukan pada-Nya. Jika seorang mencintai selain Allah dalam bentuk cinta ibadah ini, maka dia telah melakukan syirik besar. Para ulama menyebutkan jenis ini dengan cinta khusus.

Cinta ini berkaitan dengan takut dan berharap, karena cinta saja tidak cukup untuk menyelamatkan seorang dari azab Allah dan mendapatkan keberuntungan, karena orang-orang musyrik, orang Nashara para penyembah salib, orang Yahudi dan lainnya pun mengaku bahwa mereka mencintai Allah, sehingga harus ada takut dan berharap.

Kedua: Mencintai apa yang dicintai Allah

Kecintaan ini membuat seorang masuk Islam dan meninggalkan kekafiran. Manusia yang paling Allah cintai adalah yang paling baik dalam jenis kecintaan ini.

Ketiga: Kecintaan lillah dan fillah (karena Allah dan di jalan Allah)

Yang mana penyebabnya adalah karena kecintaan kepada Allah. Sesuatu tersebut dia cintai karena Allah Ta’āla. Baik manusia; seperti para nabi, para rasul, para shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Atau amalan; seperti shalat, zakat, amalan baik dan selainnya. Maka jenis ini ikut dalam kategori cinta pertama yaitu mencintai Allah.

Hukumnya fardhu dan menjadi konsekuensi mencintai apa yang Allah cintai. Cinta kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam termasuk jenis kecintaan ini, jika kecintaan kepada beliau sempurna maka berkonsekuensi mengikuti beliau.

Keempat: Cinta syirik yaitu cinta tandingan Allah

Setiap orang yang mencintai apa saja bersama dengan cintanya kepada Allah, sementara cintanya bukan karena Allah dan bukan di jalan Allah, dalam cinta yang membuatnya tunduk, patuh, pengagungan, memuliakan, dan takut kepada apa yang ia cintai, maka dia sedang mempersekutukan atau membuat tandingan bersama Allah.

Ini adalah kecintaan orang-orang musyrik sejak dahulu hingga sekarang, ketika mereka mencintai para wali dan orang-orang shalih, bahkan bagi sebagian sufi ekstrem mereka melakukannya kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam.

Kelima: Cinta tabiat, yaitu kecintaan manusia kepada sesuatu yang sesuai dengan tabiatnya, ada tiga macam:

  1. Cinta fitrah, seperti orang mencintai makanan, minuman, pakaian, kendaraan atau tempat tinggal tertentu.
  2. Cinta kasih sayang. Seperti cintanya seseorang kepada anaknya, menyayangi anak kecil, mengasihi orang lemah dan orang yang sakit.
  3. Cinta seseorang kepada temannya atau cinta memuliakan dan pengagungan yang bukan ibadah. Seperti seorang mencintai ayahnya, gurunya, dan orang-orang baik yang lebih tua darinya.

Cinta tabiat ini hukumnya mubah (diperbolehkan); kecuali jika dibarengi dengan sesuatu yang menyebabkan dia ada nilai ibadah maka kecintaan tersebut dihitung ibadah.

Contohnya seorang mencintai ayahnya dengan memuliakan dan menghormatinya, lalu dibarengi dengan sesuatu yang bernilai ibadah, dengan ia niatkan birrul walidain (berbakti kepada orang tuanya) maka menjadi ibadah. Contoh lainnya seorang mencintai anaknya dengan cinta kasih sayang, ketika dia melakukannya diiringi dengan tujuan mendidik anak tersebut maka menjadi ibadah.

Begitupula cinta tabiat; seperti makan dan minum atau kendaraan dan tempat tinggal, jika seseorang meniatkan untuk memperkuat dalam beribadah maka dihitung ibadah, karenanya dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam mencintai dalam dunia ini wanita dan parfum. (HR. Ahmad dan Nasa’i, Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykat menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Dibuat cinta dengan wanita karena sesuai dengan tabiat dan karena terdapat maslahat-maslahat yang besar. Kemudian dibuat cinta dengan parfum karena membuat semangat dan membuat rileks serta dada menjadi lapang, dan sesuatu yang baik itu untuk orang-orang yang baik pula, Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Semua ini jika dilakukan karena niat ibadah maka menjadi ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya amalan tergantung pada niatnya, dan seseorang mendapatkan apa yang ia niatkan”. (Muttafaq ‘Alaihi)

Para ulama menjelaskan bahwa suatu kewajiban jika tidak terlaksana kecuali dengannya maka ia menjadi wajib pula, dan mereka mengatakan bahwa perantara mengikuti hukum tujuannya. Ini adalah sesuatu yang sudah disepakati bersama.

Cinta tabiat ini tidak dicela secara syariat jika terpenuhi beberapa syarat:

  1. Tidak menyibukkan seorang dari ketaatan kepada Allah yang wajib. Jika melalaikan maka menjadi tercela.
  2. Tidak mengantarkan seorang pada kemaksiatan. Jika menjerumuskan seorang pada kemaksiatan maka berubah menjadi tercela.
  3. Cinta tersebut tidak sampai pada derajat yang tinggi, yaitu derajat tunduk dan pasrah serta pengagungan dan takut. Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam “Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham … dan seterusnya”. (HR. Bukhāri No. 2887)

Wallahu a’lam.

Sumber:

  1. Al-Qaulul Mufid ‘Ala Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin 2/44-46
  2. As-Syirk Fi Al-Qadim wa Al-Hadits, Abu Bakr Muhammad Zakariya hlm. 1062-1064
  3. At-Tanbihat As-Saniyah ‘Ala Al-Aqidah Al-Washithiyah, Syaikh Abdul Aziz An-Nashir Ar-Rasyid hlm. 111

Print Friendly, PDF & Email

Tentang Fadhil

Avatar
Mahasiswa LIPIA Jakarta

Check Also

Pedagang Yang Shalih

Pedagang adalah profesi yang mulia jika seorang melakukannya untuk mencari rezeki yang halal dan dengan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *