Artikel Hangat
Beranda / Faidah / Belajar Tawadhu’ Dari Syaikh Al-Muallimi

Belajar Tawadhu’ Dari Syaikh Al-Muallimi

Kisah Pertama:

Syaikh Mahmud At-Thanahi dalam kitab “Madkhal ‘ila Tarikh Nasyr Turats Al-‘Arabi” menyebutkan biografi Syaikh Abdurrahman Al-Mu’allimi, beliau menyebutkan kisah tentang beliau (hlm 205):

Syaikh Al-Muallimi adalah sosok yang tawadhu’ dan lembut, Ustadz Fuad As-Sayyid (penanggung jawab manuskrip di Dar Al-Kutub Al-Misriyah) menceritakan: Saat aku haji, aku bolak-balik ke Maktabah Al-Haram Al-Makki, untuk melihat berbagai manuskrip, dan mengunjungi pengurus perpustakaan, yaitu Syaikh Sulaiman As-Shani’, dan ada seorang ramah yang selalu datang kepada kita menyuguhkan minum air zamzam.

Setelah dua hari aku meminta Syaikh As-Shani’ agar aku bisa melihat Syaikh Abdurrahman Al-Mu’allimi, maka beliau pun balik bertanya: “Bukankah kau sudah melihatnya? Bukankah dia sudah memberimu minum air zamzam setiap hari?”

Ustadz Fuad pun berkata: Aku takjub dengan tawadhu’ beliau dan keramahannya padahal aku tahu ilmunya sangat luas.

Kisah Kedua:

Syaikh Al-Muallimi adalah sosok yang sangat tawadhu’ dan membenci popularitas. Suatu kali datang Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits, Ahmad Syakir rahimahullah hendak mengunjungi Syaikh Al-Mu’allimi di Maktabah Al-Haram Al-Makki yang saat itu Syaikh Al-Muallimi penangung jawabnya, pada saat itu mereka belum pernah bertemu sebelumnya, Syaikh Al-Muallimi menyuguhkan teh kepada Syaikh Ahmad Syakir.

Setelah lama Syaikh Ahmad Syakir menunggu dan merasa belum menemui Syaikh Al-Muallimi, beliau pun bertanya kepada pegawai yang ada di sana, beliau menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu mengunjungi Syaikh Al-Mu’allimi.

Pegawai tersebut pun menjawab: Subhanallah, orang yang datang membawa teh untuk Anda, itulah Syaikh Al-Mu’allimi.

Maka hal ini membuat Syaikh Ahmad Syakir terkesan, sampai-sampai beliau menitikkan air matanya.

Allah Tidak Menyia-nyiakan Orang Yang Berbuat Baik

Syaikh Al-Muallimi adalah sosok yang zuhud dalam urusan dunia, beliau tidak peduli dengan gemerlap dunia. Salah satu fakta zuhud beliau adalah ketika Al-Idrisi, penguasa wilayah ‘Asir, menawarkan sepetak tanah yang luas kepada beliau, namun beliau menolak tawaran tersebut dan beliau hanya menerima gajinya saja yang beliau ambil tiap bulan seperti halnya hakim atau guru sekolah.

Sebagian penuntut ilmu meminta biografi beliau, beliau pun menulisnya dan berkata “Ini adalah biografiku, aku tulis karena permintaan sebagian kawanku, dengan syarat tidak ada orang lain yang melihatnya, semoga nanti tersebar setelah wafatku”.

Syaikh Al-Mualllimi wafat di usia 73 tahun, tapi belum ada karya tulis beliau yang dicetak ketika beliau masih hidup kecuali tiga kitab saja yang jika dikumpulkan maka sejumlah 614 halaman. Kemudian setelah berlalu 40 tahun lebih setelah wafat beliau, Allah azza wa jalla menakdirkan peninggalan beliau dikeluarkan, ditahqiq dan dicetak dengan sangat baik, seingga semuanya tercetak dalam 35 jilid dan tersusun lebih dari 12.000 halaman.

Ucapan Beliau Yang Sangat Berkesan

Berkata Syaikh Al-Muallimi rahimahullah:

فإنّي ممن عُدّ لقلة العلماء عالمًا، فصار ينتابني بعض طلبة العلم، فلا يسعني إلا أن أسعفهم بمرادهم، لا على أنني عالم معلم، بل على أني طالب علم من جملتهم، أذاكرهم على حسب وسعي.

“Sesungguhnya aku dianggap alim karena sedikitnya ulama, sehingga sebagian penuntut ilmu datang kepadaku, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membantu apa yang mereka inginkan, bukan karena aku orang alim atau seorang guru, tetapi karena aku adalah penuntut ilmu seperti mereka, aku berdisusi dengan mereka sebatas kemampuanku”.

Berkata Syaikh Al-Muallimi rahimahullah:

وأنا أنصح طلبة العلم دائمًا أن لا يعدُّوني عالمًا، وأن لا يعتمدوا على قولي؛ إلا أنني أقول لهم: من اختبرني منكم زمانًا، ثم رأى من قولي ما هو موافق لإمام من أئمة العلم، وفهم الدليل وقوي نظره فلا حرج عليه من اعتماده.

“Aku selalu menasehatkan kepada para penuntut ilmu agar mereka tidak menganggapku orang alim, dan agar mereka tidak bersandar pada ucapanku. Hanya saja aku katakan kepada mereka: Siapa saja di antara kalian yang mengujiku sejak lama, kemudian ia melihat ada ucapanku yang selaras dengan ucapan salah satu ulama, dan ia memahami dalil serta memiliki pandangan yang kuat, maka tidak mengapa dengan izin Allah Ta’āla untuk bersandar dengannya”. [ Al-Atsar 19/298 ]

Print Friendly, PDF & Email

Tentang Fadhil

Avatar
Mahasiswa LIPIA Jakarta

Check Also

SILSILAH ARBA’IN NAWAWIYYA (HADITS KE 6)

Dari Abu Abdillah an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *